HIDUP PEREMPUAN YANG MELAWAN!

Sumber: www.bloombergtechnoz.com

Sebelum Kamu Mulai

Re:Emosi bukan sekadar informasi, melainkan pengalaman membaca dan merasakan.

  • Gulir halaman ini secara berurutan
  • Perhatikan tombol dan penanda yang muncul
  • Luangkan waktu di setiap bagian cerita
  • Jangan melewatkan interaksi yang tersedia

Setiap interaksi membawamu lebih dekat pada kisah Re: dan tekanan emosional yang ia alami, sebuah gambaran dari realitas yang dihadapi banyak perempuan.

Jangan lupa untuk ikut serta dalam diskusi yang dapat kamu akses lewat tombol di akhir halaman ini! (klik teks ini untuk melompat ke bagian diskusi)

Pernah dengar cerita yang kelihatannya “biasa”, tapi sebenarnya menyakitkan?

Cerita tentang perempuan yang diminta mengalah, diam, dan menerima semuanya demi orang lain. 

Aku baik-baik saja

Kalimat itu sering diucapkan Re:, tokoh perempuan dalam novel Re: karya Maman Suherman.

Tapi di baliknya, ada luka emosi yang terus dipendam.

Perhatikan teks berikut dengan seksama!

Tentang Re:

Re: hidup dalam hubungan dan lingkungan yang membuatnya sering mengalah, menekan perasaan, dan menerima perlakuan yang merendahkan harga dirinya. Ia tidak selalu disakiti secara fisik. Justru kata-kata, sikap, dan relasi yang timpang perlahan membentuk luka yang tak terlihat—itulah kekerasan emosional.

Cerita Re: bukan sekadar fiksi. Hingga tahun 2025, lebih dari 25 ribu kasus kekerasan tercatat di Indonesia, dan sebagian besar korbannya adalah perempuan (SIMFONI-PPA, 2026). Banyak dari mereka mengalami hal serupa dengan Re:—diminta diam, merasa tidak layak dicintai, atau menanggung rasa bersalah yang bukan miliknya.

Budaya patriarki, relasi kuasa yang tidak seimbang, dan minimnya kesadaran soal hak perempuan membuat kekerasan emosional sering dianggap wajar. Seperti Re:, banyak perempuan akhirnya menerima luka itu sebagai bagian dari hidup.

Lalu, bagaimana luka itu bisa bersemayam di dalam jiwa Re:?

Hidup Re: Perjalanan Emosi Perempuan di Tengah Kuasa

Saat Perempuan Belum Punya Suara
Re: masih remaja, hamil, sendirian, dan keputusan hidupnya bukan di tangannya

Tubuh & Emosi yang Diambil Alih
Re: belajar satu hal bahwa perempuan boleh merasa, tapi tidak boleh bersuara

Saat Emosi Jadi Beban
Re: berhenti melawan bukan karena kuat, tapi karena capek

Ketika Dunia Tidak Lagi Peduli
Kematian perempuan sering cuma jadi berita, tapi jarang jadi pertanyaan

Yang Tersisa dari Re:
Re: pergi, tapi ceritanya tinggal dan kita yang harus belajar

Pelajari dari Perspektif Teori Emosi dan Kekuasaan Judith Butler (1997; 2004; 2021)

Penundukan Emosional

Afektif Subjugation

Pembungkaman Suara Emosi

Silencing of Emotional Voice

Pemaksaan Norma Emosional

Emotional Normativity

Kekerasan Emosional melalui Ujaran

Verbal-Emotional Violence

Regulasi Emosi Berbasis Gender

Gendered Emotional Regulation

Pernah merasa harus mengalah supaya diakui? Atau diam karena takut dibilang berlebihan?

Sumber: abigailadamsinstitute.org

Judith Butler, seorang pemikir feminis, menyebut hal ini sebagai kekerasan emosional—bukan lewat pukulan, tapi lewat kata-kata, aturan sosial, dan cara kita “dipanggil” dalam hidup. Rere berbagi kisahnya dalam novel Re: karya Maman Suherman agar tidak ada lagi perempuan yang terluka.

Sumber: telisik.id
Novel Re: oleh Maman Suherman

Bukan dipukul, tapi dilukai.
Bukan berdarah, tapi terasa perih

Di novel Re: karya Maman Suherman, Re: sering terlihat “baik-baik saja”.

 Padahal, ada luka yang tidak terlihat—luka emosi.

A woman sitting alone on a wooden dock by the lake, showing solitude and reflection.
Sumber: Pixabay.com

Re: belajar satu hal sejak awal hidupnya:
 agar diterima, ia harus mengalah.

Ia menggantungkan harga dirinya pada pengakuan orang lain.
 Bukan karena lemah, tapi karena sistem di sekitarnya membuatnya begitu.

Ketika kita terus menekan diri demi diterima,
 itu bukan cinta. Itu penundukan emosional.

"Sinta pernah bilang sama gue, kalau terus-terusan cuma jadi lonte, sampai mati pun akan jadi lonte. Kita harus berhenti. Tapi mau kerja apa? Kerja jadi orang baik-baik? Emangnya bisa? Kalau pun bisa, emangnya orang lain mau terima lonte? Bekas lonte?" lirih Re: dengan mata berkacakaca. "Kata Sinta," lanjut Re:, "lonte itu sepertinya saja hidup karena masih bernapas, padahal sudah mati. Sering dianggaр bukan manusia. Kalau sudah tidak diperlukan, dibuang begitu saja. Dikejar-kejar seperti coro. Diinjak-injak sampai nggak berbentuk!"

Re: tahu hidupnya menyakitkan.
 Ia ingin berhenti.
 Ia ingin berubah.

Tapi di kepalanya, selalu ada satu suara:


Emang bisa?

Ia tidak cuma takut pada dunia luar.
 Ia sudah percaya pada cap yang ditempelkan orang lain:
lonte tetap lonte, sampai mati.

Inilah penundukan emosional.
 Saat seseorang merasa hidupnya sudah ditentukan,
 dan tak lagi percaya bahwa ia layak punya masa depan (Butler, 1997; 2004; 2021).

Pernah nggak merasa dunia sudah memutuskan siapa dirimu, sebelum kamu sempat memilih?​

Close-up of a person with black tape over their mouth, symbolizing silence.
Sumber: Pexels.com

Setiap kali Re: ingin bicara, dunia menyuruhnya diam.
 Sedihnya dianggap berlebihan. Takutnya dianggap drama.

Pelan-pelan, ia berhenti bersuara.
 Bukan karena tidak punya emosi,
 tapi karena tidak ada yang mau mendengar.

Dibungkam juga bentuk kekerasan.

“Di balik gaya mereka yang genit dan menggoda ternyata aku menemukan kisah yang berbeda. Banyak di antara mereka yang mengaku menjual tubuh mereka karena terjepit keadaan. Jauh di lubuk batin, mereka merasa tersiksa karena bekerja tak ubahnya seorang 'budak'.”

Saat Senyum Menutup Luka

Di luar, mereka terlihat genit dan menggoda.
 Tapi jauh di dalam, ada rasa terpaksa dan tersiksa.

Mereka tidak benar-benar bisa bilang capek, takut, atau sakit.
 Keadaan memaksa mereka diam dan tetap “tampil kuat”.

Inilah pembungkaman emosi.
 Saat perasaan disimpan rapat,
 karena dunia tidak memberi ruang untuk jujur (Butler, 1997; 2004; 2021).

Pernah nggak terlihat baik-baik saja,
 padahal sebenarnya lagi hancur?

Kalau iya, kamu tidak sendirian dan itu bukan salahmu.

Di sekitar Re:, penderitaan perempuan terasa “wajar”.


Menangis? Biasa.


Tersakiti? Sudah risiko hidup.

Masyarakat menentukan emosi mana yang boleh ada,
 dan emosi mana yang harus disembunyikan.

Saat luka dianggap biasa, kekerasan jadi tak terlihat.

“Kamu diapain lagi?” “Ya diapainlah, kan dia sudah bayar,” jawab Re: berusaha bercanda sambil melepas senyum.”

Re: tersenyum. Bercanda. Seolah nggak terjadi apa-apa.

Padahal, senyum itu bukan tanda baik-baik saja.
 Itu emosi yang dipaksa terlihat normal.

Dalam hidup Re:, sedih dan marah nggak dianggap pantas.
 Yang boleh ditampilkan cuma satu: senyum dan bercanda.

Inilah yang disebut pemaksaan norma emosi.
 Saat seseorang dipaksa menampilkan emosi “yang bisa diterima”,
 meski hatinya sedang terluka (Butler, 1997; 2004; 2021).

Kenapa Ini Kekerasan Emosional?

Karena Re: tidak diberi ruang untuk jujur pada perasaannya sendiri.
 Lukanya dianggap biasa. Emosinya harus disesuaikan dengan situasi dan harapan orang lain.

Pernah nggak kamu?

Ketawa padahal capek

Bilang “nggak apa-apa” padahal sakit

Pura-pura kuat supaya nggak bikin orang lain risih?

Kalau iya, itu bukan hal sepele.
 Itu tanda emosi kamu sedang dipaksa menyesuaikan norma.

Senyum itu pilihan, bukan kewajiban.

Setiap emosi layak dirasakan dan didengar.

Kekerasan Emosional lewat Ucapan (Verbal-Emotional Violence)

Re: tidak selalu dipukul.
 Namun kata-kata merendahkan terus menempel di kepalanya.

Ucapan bukan cuma suara.
 Ia bisa membentuk cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Luka dari kata-kata sering bertahan lebih lama.

“Kamu diapain lagi?” “Ya diapainlah, kan dia sudah bayar,” jawab Re: berusaha bercanda sambil melepas senyum.”

Mami akan kejar sampai ke liang lahat

Kalimat ini bukan cuma ancaman.
 Ini kekerasan emosional lewat kata-kata.

Di novel Re:, ucapan Mami Lani bukan sekadar omongan.
 Kata-kata itu dipakai untuk mengontrol, menakut-nakuti, dan menundukkan Re:.

Menurut Judith Butler, ujaran seperti ini bukan hanya bicara,
 tapi tindakan yang melukai (Butler, 1997; 2004; 2021).

Kenapa Ini Kekerasan Emosional?

Karena kata-kata:

Ucapan ancaman bekerja seperti jerat.
 Tidak menyentuh tubuh, tapi mengikat emosi dan pikiran.

Pernah dengar kalimat yang bikin kamu:

Itu bukan sekadar kata-kata. Itu kekerasan emosional.

Kata-kata bisa melukai.

Tapi kata-kata juga bisa membuka mata.

Belajar dari Re:,
 kita tahu bahwa ancaman verbal adalah bentuk kekuasaan,
 dan kekerasan emosional itu nyata.

Kenali. Sadari. Jangan Diam.

Emosi Diatur Berdasarkan Gender (Gendered Emotional Regulation)

Re: diajari untuk sabar.
 Untuk mengerti.
 Untuk tidak marah.

Itulah “cara jadi perempuan” menurut lingkungannya.

Padahal, marah, sedih, dan kecewa juga manusiawi.

“Seperti kebiasaan di kalangan keluarga ningrat, perempuan tak punya hak untuk membantah apa yang "difatwakan" suaminya. Meskipun marah dan tidak setuju, Nini hanya bisa menerima apapun keputusan Aki. Termasuk pula ketika Aki dengan santainya berkali-kali bilang sudah menikah lagi. Beberapa di antara istri mudanya bahkan pernah dibawa ke rumah dan diperkenalkan kepada Nini.”

Saat Perempuan Dipaksa “Tenang”

Nini marah. Nini tidak setuju. Tapi Nini harus diam.

Di keluarganya, perempuan tidak punya ruang untuk membantah.
 Perasaan Nini—marah, kecewa, terluka—dianggap tidak penting.

Suaminya bebas memutuskan segalanya.
 Bahkan menikah lagi, berkali-kali, tanpa merasa perlu meminta persetujuan.

Inilah kekerasan emosional berbasis gender:
 bukan karena perempuan tidak punya emosi,
 tetapi karena emosinya tidak diizinkan untuk muncul (Butler, 1997; 2004; 2021).

Kenapa Ini Kekerasan Emosional?

Menurut Judith Butler, emosi perempuan sering diatur oleh norma gender.
 Perempuan diharapkan:

Saat perempuan marah, ia dianggap salah.
 Saat laki-laki berkuasa, emosinya dianggap wajar.

Pernah nggak kamu disuruh “jangan emosi” padahal kamu dilukai?

Emosi bukan pelanggaran.
 Marah bukan dosa dan diam bukan kewajiban.

Setiap perasaan layak diakui.

Setiap perempuan berhak bersuara.

Cerita Re: bukan hanya cerita fiksi.

Ia adalah cermin dari banyak pengalaman perempuan di dunia nyata.

Kekerasan emosional sering tidak terlihat,
 tapi dampaknya nyata.

Dengan mengenali ceritanya,
 kita belajar mengenali tanda-tandanya.

Emosi bukan kelemahan.
Diam bukan solusi.

Mulai dari memahami,
 kita bisa menciptakan relasi yang lebih sehat dan adil.

Karena Perasaan Perempuan Bukan Kesalahan

Kisah Re: mengajarkan kita satu hal penting:
 kekerasan tidak selalu meninggalkan luka di tubuh,
 tetapi sering menetap lama di hati dan ingatan.

Diam yang dipaksakan, perasaan yang diabaikan,
 dan emosi yang dianggap “tidak pantas”
 adalah bentuk kekerasan emosional yang kerap luput dari perhatian.

Lewat sastra, kita belajar memahami bahwa setiap perempuan berhak merasa, berhak bersuara,
 berhak diakui sebagai manusia utuh.

Perubahan dimulai dari hal sederhana:
 mendengarkan tanpa menghakimi,
 menghargai emosi orang lain,
 dan berani berkata “cukup” pada ketidakadilan.

Karena empati bisa dipelajari

Karena sastra bisa membuka mata

Dan karena keadilan gender dimulai dari kesadaran kita bersama

Kekerasan Emosional yang Tumbuh Sejak Dini

Kekerasan emosional yang dialami Re: dalam novel Re: bukanlah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba ketika ia dewasa. Kekerasan itu telah hadir sejak masa kanak-kanak, berakar dalam pengalaman hidupnya yang penuh stigma, pengabaian, dan pelabelan yang melukai batin. Sejak kecil, Re: telah belajar bahwa perasaan takut, malu, dan tidak berharga adalah bagian dari kehidupannya sebagai perempuan. Pola inilah yang kemudian membentuk cara Re: memahami dirinya dan relasinya dengan orang lain.

Ketika dewasa, Re: tidak lagi memandang kekerasan emosional sebagai sesuatu yang salah atau perlu dilawan. Ia justru menerimanya sebagai hal yang “wajar”. Senyum, candaan, dan sikap diam yang kerap ia tampilkan bukanlah tanda ketegaran, melainkan strategi bertahan hidup yang lahir dari luka lama yang tidak pernah disembuhkan. Kekerasan emosional telah menjadi bagian dari struktur hidupnya, bukan sekadar pengalaman sesaat.

Melalui kisah Re:, novel ini memperlihatkan bahwa kekerasan emosional bekerja secara sistemik. Ia tumbuh dari lingkungan keluarga, diperkuat oleh norma sosial, dan dilegitimasi oleh relasi kuasa yang timpang. Karena telah dialami sejak kecil, kekerasan tersebut tidak lagi terasa asing bagi Re:, tetapi justru membentuk pola penerimaan diri yang menyakitkan.

Narasi ini mengingatkan kita bahwa kekerasan emosional tidak selalu tampak dalam bentuk bentakan atau ancaman. Ia bisa hadir secara diam-diam, tumbuh bersama seseorang sejak kecil, dan terus membayangi kehidupannya hingga dewasa. Oleh karena itu, memahami dan mengenali kekerasan emosional sejak dini menjadi langkah penting untuk memutus rantai luka yang diwariskan secara sosial dan psikologis.

Mungkin ada banyak Re: lainnya di luar sana. Ayo diskusikan apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka?

Klik tombol ini untuk bergabung dalam diskusi

Mari ciptakan ruang aman,
 di mana tidak ada lagi perempuan yang dipaksa diam.

Daftar Pustaka

Butler, J. (1997). The Psychic Life of Power: Theories in Subjection. Stanford University Press.
Butler, J. (2004). Undoing Gender. Routledge.
Butler, J. (2021). Excitable Speech: A Politics of the Performative. Routledge.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2026). Ringkasan data kekerasan (SIMFONI-PPA). SIMFONI-PPA. Diakses 16 Januari 2026, dari https://kekerasan.kemenpppa.go.id/ringkasan
Suherman, M. (2014). Re: KPG.

Disusun Oleh

Wini Iga Munggarani

Prof. Dr. Yulianeta, M. Pd.

Dr. Halimah, M. Pd.